Pinyaram, Kue Legit dari Dapur Nenek di Sarilamak

Udara pagi di Sarilamak masih terasa dingin ketika nenek mulai sibuk di dapur. Wajan tanah liatnya berisi adonan putih kental yang mengeluarkan aroma manis gula merah. Saya yang waktu itu masih kelas tiga SD, duduk di bangku kecil sambil memperhatikan setiap gerakan tangannya yang lentur. “Ini namanya pinyaram,” katanya sambil tersenyum. “Kue khas Minang yang harus kamu hafal resepnya, karena nanti kamu yang akan meneruskannya.” Aroma karamel dan tepung beras yang dipanggang perlahan memenuhi ruangan. Saat itulah saya pertama kali jatuh cinta pada pinyaram.
Kenangan Pertama Mencicipi Pinyaram
Bagi orang Minang, pinyaram bukan sekadar jajanan biasa. Kue yang terbuat dari tepung beras, gula merah, santan, dan sedikit garam ini selalu hadir di acara adat atau sekadar teman minum teh di sore hari. Bentuknya bulat pipih dengan tekstur kenyal di dalam dan sedikit garing di luar. Saat digigit, rasa manis legit gula merah langsung meleleh di lidah. Nenek bilang, pinyaram yang baik harus punya “senyum” – retakan kecil di permukaan yang menandakan adonan sudah matang sempurna.
Dulu saya sering penasaran kenapa pinyaram buatan nenek rasanya beda dari yang dijual di pasar. Rahasianya ternyata ada di teknik mengaduk dan kesabaran. Adonan harus diaduk terus selama satu jam dengan api kecil. Jika berhenti, adonan akan menggumpal. “Kamu harus kuat dan ikhlas,” kata nenek sambil tertawa. “Kue ini mengajarkan kita tentang ketekunan.”
Belajar Meracik Adonan
Setelah dewasa, saya baru mulai serius belajar membuat pinyaram sendiri di rumah. Rumusnya sederhana: campurkan tepung beras (200 gram) dengan santan kental (150 ml) dan gula merah halus (150 gram), lalu tambahkan sejumput garam. Aduk rata hingga licin, lalu masak di wajan anti lengket dengan api kecil sambil terus diaduk selama 45 menit hingga adonan kalis dan bisa dipulung.
Bagian tersulit bukan bahannya, tetapi konsistensi api. Terlalu besar, pinyaram hangus di luar namun mentah di dalam. Terlalu kecil, adonan tidak akan matang. Butuh latihan beberapa kali hingga saya bisa mencium bau “sudah jadi” yang tepat. Kuncinya adalah ketika pinggiran adonan mulai retak dan muncul bintik-bintik minyak di permukaan. Setelah adonan dingin, bentuk bulat pipih seukuran telapak tangan, lalu panggang sebntar di atas wajan tanah liat agar permukaannya kering.
Saya ingat betul kegagalan pertama: adonan saya bantat dan keras seperti batu. Nenek tersenyum, “Itu tandanya kamu kurang santai. Pinyaram suka tangan yang santai, Nak.” Sejak itu saya belajar bahwa membuat pinyaram adalah meditasi kecil: perlu irama, napas tenang, dan cinta.
Pinyaram dan Rasa Rumah
Setiap kali membuat pinyaram di dapur mungil saya di Sarilamak, kenangan itu kembali hidup. Kue sederhana ini mengajarkan bahwa tradisi tidak harus rumit. Cukup bahan-bahan dari dapur: tepung, gula, santan, dan garam. Tidak perlu mixer atau oven modern. Hanya tangan, hati, dan api.
Sekarang saya sering membagikan pinyaram ke tetangga saat Idulfitri atau sekadar karena rindu. Kadang saya tambahkan kelapa parut di atasnya, atau isian cokelat untuk variasi. Tapi nenek selalu berpesan: “Jangan lupa bentuk aslinya. Pinyaram asli hanya tiga bahan, itu sudah cukup sempurna.”
Kue ini mengingatkan saya bahwa makanan tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal hubungan antargenerasi. Di setiap gigitan pinyaram, ada pelukan nenek, ada cerita pagi di Sarilamak, ada rasa syukur yang tak terucap.
Bagi Anda yang ingin mencoba membuat pinyaram sendiri, saya sarankan membaca resep-resep dari sumber terpercaya seperti yang diulas di Wikipedia tentang masakan Minangkabau. Dari sana Anda bisa mempelajari variasi dan filosofi di baliknya. Dan jangan lupa, bersabarlah saat mengaduk. Itu bukan hanya langkah memasak, itu cara nenek mengajari saya arti cinta.

